Selasa, 07 November
2017
Tugas 1 Softskill Bahasa Indonesia 2
PENALARAN,
INDUKSI, DEDUKSI
1. PENALARAN
A. Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari
pengamatan indera(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep
dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan
terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah
proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah
proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut
menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut
dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut
dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi
disebut konsekuensi.
B. Hal-hal yang berhubungan dengan penalaran :
- Induksi
- Deduksi
C. Contoh Kasus
- Dalam pengertian
aktivitas seseorang berpikir logis. Contoh ; Hakim tingkat banding Pengadilan
Tinggi Agama menerbitkan putusan sela, dengan memerintahkan kepada ; Pengadilan
Agama, untuk melakukan pemanggilan kepada Pembanding dan Terbanding, agar
supaya hadir pada persidangan di PTA pada tanggal 23 Maret 2011, guna
dimintai keterangannya. Tetapi pada amar putusan sela yang lain, memerintahkan
pula kepada Pengadilan Agama untuk melakukan sidang di tempat atas obyek
sengketa, yang terletak di daerah Jakarta Selatan, Bandung, Bogor dan
Raha,tanpa menyebutkan ketentuan batas waktu. Pernyataan ini sesungguhnya tidak
memiliki kandungan nalar dan penalaran yang benar, karena ada dua hal yang
tidak masuk akal, yaitu:
a. Bagaimana mungkin sidang di PTA
digelar yang pada intinya, bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan konkret
atas obyek sengketa dengan ketentuan waktu pada tanggal 23 Maret 2011,
sementara memerintahkan pula Pengadilan Agama untuk melakukan sidang
pemeriksaan di tempat tanpa menyebut batas waktu dan adanya pengiriman
berita acara hasil pemeriksaan di tempat tersebut ke PTA.
b. Apa yang mau diperjelas dan
konkret pada persidangan di PTA pada tanggal 23 Maret 2011, sementara
pemeriksaan setempat oleh PA di beberapa daerah belum dilakukan. ·
Jangkauan pikir.
Contoh ; Seorang hakim dengan giatnya
membaca dan belajar serta selalu mempersiapkan referensi buku-buku hukum,
jurnal hukum, baik hukum formal maupun hukum materiil. Bahkan ia sering
melakukan diskusi hukum dan juga rajin membaca putusan-putusan hakim melalui
yurisprudensi, sehingga pada saatnya nanti ia berharap akan menjadi hakim yang
lebih berkualitas dan memiliki integritas moral yang baik. Hakim seperti ini
memiliki nalar dan penalaran yang mempersiapkan diri secara lebih strategis
untuk kepentingan tugasnya di masa yang akan datang.
·
Kekuatan pikir.
Contoh ; Seorang
hakim yang mengikuti program studi S2 atau S3 dalam setiap kegiatan
seminar di S2 atau dalam setiap kegiatan di ujian terbuka di program S3. Dari materi
ujian promovendus, ia tidak pernah luput dari pengamatannya, baik melalui
diskusi maupun melalui bentuk penulisan karya ilmiah. Pada saat ia hadir dalam
sebuah seminar, ia dengan mudah memahami substansi materi pembahasan dan
berusaha mengajukan tanggapan ataupun pertanyaan yang sangat mudah dipahami
oleh orang lain. Mahasiswa seperti ini memiliki kemampuan nalar dan penalaran
yang baik untuk menunjang kesuksesan program studinya di masa yang akan datang.
·
Menggunakan nalar atau pemikiran logis.
Contoh ; Seorang
pejabat perbankan di persidangan pengadilan negeri dan ia bertindak sebagai
saksi, lalu hakim mencecarnya dengan pertanyaan yang beruntun. Lalu
oleh saksi tersebut, menjawab dengan tenangnya bahwa dirinya lupa....,
lupa...., lupa.... dan seterusnya, bahkan kadang saksi tersebut mengatakan
bahwa dirinya tidak tahu. Hakim yang menyidangkan perkara ini harus memiliki
nalar dan penalaran yang baik, bahwa sangat tidak logis, seorang saksi
mengatakan ; lupa, lupa, lupa atau bahkan tidak tahu, padahal ia berkedudukan
sebagai salah seorang subyek hukum dalam perkara ini. Nalarpun berkata, mana
mungkin para terdakwa yang terdiri dari beberapa orang anggota DPR telah
divonis bersalah karena menerima sejumlah uang suap dan telah dijatuhi
hukuman pidana penjara antara satu sampai dua tahun, kalau tidak ada
orang yang memberi suap. Hakim harus membentuk atau membangun sebuah penalaran
terhadap kemungkinan adanya saksi-saksi yang terlibat memberi suap atas kasus
ini. Contoh-contoh tersebut merupakan sebagian fenomena umum yang terjadi di
masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Dan di sana bisa ditemukan bagaimana
fungsi dan manfaat nalar dan penalaran itu.
2. INDUKSI
A.
Pengertian Induksi
Penalaran
induksi yaitu proses penalaran untuk menarik kesimpulan dari prinsip/sikap yang
berlaku umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus (induksi).
Ciri-ciri
Paragraf Induksi :
·
Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
·
Kemudian,
menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
·
Kesimpulan
terdapat di akhir paragraf ·
Menemukan
Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas Kalimat utama paragraph
Indukti
f
terletak di akhir
paragraf
·
Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama ·
Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan
peristiwa- peristiwa khusus
·
Kalimat penjelas merupakan kalimat yang
mendukung gagasa utama
B.
Hal-hal yang berhubungan dengan Induksi Penalaran Induksi dan
Coraknya Penalaran induksi dapat dilakukan dengan tiga cara :
generalisasi,
analogi, hubungan kausal ( hubungan sebab akibat ),
·
Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang
bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik
kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu.
Generalisasi diturunkan dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui
pengalaman, observasi, wawancara atau studi dokumentasi.
·
Analogi
Analogi
dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan pembandingnya
memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi, seseorang dapat
menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit dan lebih mudah
dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau analogi logis.
Analogi induksi ( kias ) adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua
peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk
menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan
karakteristik diantara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan “ apa yang
berlaku pada satu hal akan berlaku pula untuk hal lainnya “ dengan demikian
dasar kesimpulan yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensi yang
berhubungan erat dari dua hal yang dianalogikan.
·
Hubungan Kausal
Menurut hokum kausalitas semua peristiwa yang
terjadi di dunia ini terjalin dalam rangkaian sebab akibat. Tidak ada satu
gejala atau kejadian yang muncul tanpa penyebab.
Sedikit Tambahan
:
#) Metode induksi Metode berpikir
induksi adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari
hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang
disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
C.
Contoh Kasus · Harimau
berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
·
Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak
dengan melahirkan.
3. DEDUKSI
A. Pengertian Deduksi
Penalaran deduksi adalah menarik kesimpulan
khusus dari premis yang lebih umum. Jika premis benar dan cara penarikan
kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. Jika
penalaran induksi erat kaitannya dengan statistika, maka penalaran
deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan
dan bilangan.
B.
Hal-hal yang berhubungan dengan deduksi
Macam-macam
penalaran deduktif diantaranya : ·
Silogisme Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduksi.
Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi
(kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah
pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan. Contohnya:
Semua manusia akan mati
Amin adalah manusia Jadi
, Amin akan mati
(konklusi / kesimpulan)
·
Entimen Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan
pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah
sama-sama diketahui. Contoh : Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada matahari Pada malam hari tidak mungkin ada proses
fotosintesis
C.
Contoh Kasus
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
sosial
. Sumber
Referensi :
http://rachmawatinadya.blogspot.com/2011/10/pengertian-penalaran-dan-macam-macam.html
http://faridarahmanty.blogspot.com/2013/10/penalaran-yang-berhubungan-dengan_9055.html
http://selvibrigitta.blogspot.com/2013/04/penalaran-deduktif.html
http://velistigris.blogspot.com/2013/03/penalaran-induktif.html http://fachri86.wordpress.com/2012/10/18/penalaran-induktif/
http://velistigris.blogspot.com/2013/03/penalaran-induktif.html
http://firna-blog.blogspot.com/2012/03/pengertian-induktif-dan-deduktif.html
http://hadasiti.blogspot.com/2012/03/arti-dan-contoh-dari-penaralan-induktif.html
Karangan Ilmiah, Karangan Non Ilmiah dan Metode Ilmiah
1.
PENGERTIAN KARANGAN ILMIAH
a. Menurut
Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan
fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya
ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan,
peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu
dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).
b. Karya ilmiah
merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara
ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan
sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca.
c. Karya ilmiah
adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan
lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan menyajikan fakta
umum serta ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. Karya ilmiah
ditulis dengan bahasa yang konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis
dan dan didukung fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya
d. Karya tulis
ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan itu
dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh
melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan
metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap
permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan
penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul
suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari
penelitian tersebut.
Dari berbagai
macam pengertian karya ilmiah di atas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud
karya ilmiah dalam makalah ini adalah, suatu karangan yang berdasarkan
penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan
dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah.
Hal – hal yang berhubungan dengan karangan
tulis ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Pengalaman
Pribadi
2. Tugas tugas kuliah
3. Kegiatan sehari hari, dll.
Contoh Karangan
Ilmiah :
Karangan ilmiah: memiliki aturan baku dan
sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa.
Misal: Efek Rumah Kaca, Dampak Globalisasi Terhadap Pendidikan dan Masih banyak
lainnya 2.
PENGERTIAN
KARANGAN NON ILMIAH
Pengertian
karangan non ilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang
dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga
sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari
bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah
baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya,
kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang
dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus
merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual
objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi. Kedua, karya
ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah
digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur
dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan
strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa
ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan
karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa
dalam melakukan pengklasifikasian. Karangan nonilmiah yang telah disebutkan di
atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian
ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan
karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa
karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah
adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam
karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu,
dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin
dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian
istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi
sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan
kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak
longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki
pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan
semiilmiah. Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan
nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah
adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan
semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang
tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber,
novel, roman, puisi, dan naskah drama. Karya nonilmiah sangat bervariasi topik
dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan
nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif.
Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer,
walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat emotif:
kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan
dan sedikit informasi, persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan
untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup
informative, deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif,
dan jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Hal – hal yang
berhubungan dengan karangan tulis non ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Ditulis
berdasarkan fakta pribadi
2. Fakta yang disimpulkan subyektif
3. Gaya bahasa konotatif dan populer
4. Tidak memuat
hipotesis
5. Penyajian dibarengi dengan sejarah
6. Bersifat imajinatif
7. Situasi
didramatisir
8. Bersifat persuasif
9. Tanpa
dukungan bukti
Contoh Karangan Non Ilmiah:
Karangan non
ilmiah:
karangan yang tidak terikat pada karangan baku
Misal: anekdot, opini, dongeng, hikayat, cerpen, novel, roman, dan naskah
drama.
3. PENGERTIAN
METODE ILMIAH Metode ilmiah adalah proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan
secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta
membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang
dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika
suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu
teori ilmiah. Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah
berikut:
1.
Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang
merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran) 3. Prediksi
(deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas
semua hal di atas)
Karakteristik
Metode Ilmiah Metode
ilmiah
bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses
karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang
dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat
melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan-pengamatan yang dimaksud
seringkali memerlukan pengukuran dan perhitungan yang cermat. Proses pengukuran
dapat dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi
seperti bintang atau populasi manusia. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya
ditabulasikan dalam table. Digambarkan dalam bentuk grafik atau dipetakan dan
diproses dengan penghitungan statistika seperti korelasi dan regresi
Umumnya terdapat
empat karakteristik penelitian ilmiah :
1. Sistematik.
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai
pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
2. Logis. Suatu
penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta
empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah
bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bias dengan
prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari
berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir
untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat
umum.
3. Empirik.
Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang
ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil
penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :
a). Hal-hal
empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau
perbandingan satu sama lain).
b). Hal-hal
empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
c). Hal-hal empirik tidak bisa secara
kebetulan,melainkan ada penyebabnya.
4.
Replikatif. Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali
oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan
metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan
definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.
Langkah-Langkah Metode Ilmiah
1. Memilih dan
mendefinisikan masalah
2. Survey
terhadap data yang tersedia
3. Memformulasikan hipotesa
4. Membangun
kerangka analisa serta alat-alat dalam menguji hipotesa
5. Mengumpulkan data primer
6. Mengolah, menganalisa serta membuat
interpretasi
7. Membuat
generalisasi dan kesimpulan
8. Membuat laporan Contoh Metode Ilmiah:
1. Daun sirsak
obat kanker payudara
2. Kuning telur sebagai penghilang noda
pakaian 3. Mengawetkan telur dengan minyak kelapa
4. Lingkungan hidup dan pencemaran lingkungan
Sumber Refrensi:
http://fikarzone.wordpress.com/2011/02/15/karya-ilmiah-non-ilmiah/
http://jadikecil.wordpress.com/about/karya-ilmiah-bahasa-indonesia-tentang-global-warming/
http://copasmakalah.blogspot.com/2013/09/contoh-makalah-karya-ilmiah-tentang.html
http://genryusai.wordpress.com/2012/03/31/pengertian-karangan-ilmiahkarangan-non-ilmiah-dan-karangan-semi-ilmiah/
http://charensha.wordpress.com/2011/02/23/pengertian-metode-ilmiah/
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130926184003AAfcD2C
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong saran-nya jika blog saya merugikan orang lain..
TQ ^^